Wayang Potehi: Budaya Tionghoa dalam Keindonesiaan

Wayang Potehi: Budaya Tionghoa dalam Keindonesiaan

Sebagaimana dilansir oleh sejumlah media antara lain, Kompas.com, Mediaindonesia.com, Wartaekonomi.co.id, Detik.com, dan Viva.co.id, Josh Stenberg, Ph.D. menyampaikan bahwa pertunjukkan Potehi dibawa dari Tiongkok ke Asia Tenggara sekitar akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Menurutnya, pertunjukan wayang Potehi di Indonesia pertama kali berkembang di daerah Semarang.
Menariknya, wayang Potehi telah mengalami proses indigenisasi, yaitu sebuah proses dimana budaya yang awalnya berasal dari luar Indonesia menjadi sebuah budaya yang berakar dan mengandung unsur-unsur lokal di Indonesia.

“Orang-orang dari Taiwan dan Daratan Tiongkok, yang merupakan negeri asal wayang Potehi, akan mengalami kesulitan untuk memahami pertunjukan wayang potehi di Indonesia,” ujar Profesor Stenberg.

Oleh karena itu, Stenberg berpandangan bahwa wayang Potehi telah menjadi fenomena “pasca etnik”, karena meskipun budaya ini berasal dari Tiongkok, Potehi tak lagi dipertunjukan menggunakan bahasa Hokkian, dan telah mengandung berbagai unsur keindonesiaan. Bahkan, sejumlah besar orang-orang yang terlibat dalam pertujunkan wayang Potehi adalah orang-orang non-Tionghoa. Ia berpendapat, Potehi telah menjadi sepenuhnya Indonesia, dimana pertunjukan ini bukan menjadi duta bagi budaya etnik Tionghoa, tetapi sebagai simbol dari budaya antar-etnik.

Selanjutnya, Dwi Woro Retno Mastuti, seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI), menyatakan wayang Potehi merupakan salah satu seni pertunjukan wayang Peranakan Cina Jawa yang biasanya digelar di berbagai klenteng di pulau Jawa sebagai bagian dari ritual umat Kong Hu Cu. Menurutnya, Potehi umumnya mengisahkan berbagai kisah legenda asal Tongkok, seperti Sie Jin Kwi, Sam Kok, San Pek Eng Tai, dan Li Si Bin. Menariknya, kisah-kisah di atas justru ditulis dalam aksara Jawa. Ia berpendapat, hal ini membuat Potehi memang bukan lagi budaya Tionghoa semata, tapi telah menjadi budaya Indonesia.

“Potehi sudah bagian dari bangsa Indonesia, bagian dari keragaman menjadi Indonesia. Karena, bahasanya Indonesia, pemainnya Indonesia, pengrajinnya orang Jawa, pendukungnya anak anak muda Indonesia,” kata Dwi Woro. Oleh karena itu, dia bertekad untuk terus melestarikan wayang Potehi sebagai bagian dari upaya merawat kebhinekaan Indonesia.

Hadir pula Afdal Ridho Arman, seorang sutradara muda dan praktisi film yang karyannya berjudul “Po Te Hi” ikut serta ditayangkan dalam seminar kali ini.

Sebagai penutup, Johanes Herlijanto, Ph. D. selaku ketua dari FSI, menyampaikan bahwa Potehi merupakan budaya yang dirayakan tidak lagi memperlihatkan wajah budaya Tiongkok yang asing, tapi budaya yang telah menjadi bagian dan mengandung nilai-nilai Indonesia. Oleh karena itu budaya-budaya Tionghoa, bukan hanya Potehi, adalah bagian dari bangsa Indonesia yang harus kita terima, hargai, dan pertahankan.

Sumber


  1. https://www.kompas.com/edu/read/2024/02/24/203227871/dosen-ui-wayang-potehi-telah-jadi-bagian-keragaman-indonesia#google_vignette
  2. https://mediaindonesia.com/humaniora/654183/membedah-transformasi-wayang-potehi-jadi-warisan-budaya-tionghoa-berwajah-indonesia#google_vignette
  3. https://wartaekonomi.co.id/read529529/masyarakat-tionghoa-dihimbau-kedepankan-budaya-tionghoa-berwajah-indonesia
  4. https://news.detik.com/berita/d-7209529/mengenal-budaya-tionghoa-indonesia-lewat-wayang-potehi
  5. https://www.viva.co.id/english/1690613-wayang-potehi-a-hybrid-symbol-of-indonesian-diversity