Tionghoa dan Dakwah Islam di Indonesia: Masa Lalu dan Kekinian

Tionghoa dan Dakwah Islam di Indonesia: Masa Lalu dan Kekinian

Dilansir dari keterangan pers yang dimuat dalam sejumlah media, antara lain sindonews.com, tribunnews.com, jpnn.com, wartaekonomi, viva.co.id, kompas.com, kabar24bisnis, dan mediaindonesia,com, sejarawan Pusat Penelitian Kewilayahan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Saiful Hakam mengatakan, keputusan sebagian masyarakat etnik Tionghoa di Indonesia untuk memeluk agama Islam merupakan salah satu dari sekian banyak contoh yang memperlihatkan pergulatan masyarakat Tionghoa untuk menjadi bangsa Indonesia sepenuhnya sejak masa lalu, termasuk di sepanjang pemerintahan Orde Baru (Orba). Hal ini disampaikan dalam diskusi bertajuk “Tionghoa dan Dakwah Islam di Indonesia: Masa Lalu dan Kekinian,” yang diselenggarakan oleh Forum Sinologi Indonesia (FSI) di Jakarta, Sabtu, 20 April 2024. 

Menurut alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, terdapat perbedaan kontras antara situasi masa lalu, khususnya pada zaman pemerintahan Orba dengan situasi di era sekarang ini. Perbedaan yang dimaksud adalah larangan terhadap penampilan budaya dan identitas Tionghoa di ranah publik pada zaman Orba. Hal itu membuat orang Tionghoa yang memeluk agama Islam harus melepaskan dan meninggalkan ketionghoaan mereka. Sedangkan di masa kini, Tionghoa dapat menjadi Muslim dengan tetap mempertahankan budaya dan identitas Tionghoanya. 

Mendukung pernyataan akan perbedaan tersebut, Audhiandra Nur Ratri Okviosa, alumnni Program Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Pelita Harapan (UPH), memaparkan kisah bagaimana masyarakat Tionghoa di Indonesia menjadi seorang muslim pada masa kini, sambil tetap mempertahankan identitas dan budaya etnik mereka. Menurutnya, kehadiran masyarakat Muslim yang mempertahankan identitas Tionghoa tersebut dapat ditemui di berbagai komunitas, salah satunya adalah komunitas Tionghoa Muslim di Masjid Lautze, Jakarta. Nuansa ketionghoaan di masjid tersebut hadir dalam bentuk arsitektur yang bergaya Tionghoa dan latar belakang para pemimpin Muslim beretnis Tionghoa yang menjalankan kegiatan dakwah mereka di sana. Hal ini bertujuan agar para mualaf dapat merasa nyaman dalam mempelajari agama Islam. 

Dosen Program Magister Ilmu Komunikasi UPH dan Ketua FSI, Johanes Herlijanto menambahkan, peran yang dimainkan oleh para pendakwah Muslim Tionghoa di Masjid Lautze ini merupakan salah satu bentuk partisipasi Tionghoa Muslim dalam melakukan dakwah. Peranan ini juga memiliki arti penting untuk memahami etnik Tionghoa di Indonesia, serta menjadi sebuah contoh nyata yang memperlihatkan kemampuan beradaptasi Tionghoa dengan budaya dan masyarakat Indonesia, seperti yang diperkenalkan oleh Hew Wai Weng, seorang pakar Tionghoa Indonesia negeri Jiran, Malaysia, dalam bukunya yang berjudul “Chinese Ways of Being Muslims: Negotiating Ethnicity and Religiosity in Indonesia.”


Referensi

  1. https://edukasi.sindonews.com/read/1362979/211/sejarawan-brin-begini-salah-satu-cara-komunitas-tionghoa-bergulat-menjadi-indonesia-seutuhnya-1713683078
  2. https://www.tribunnews.com/nasional/2024/04/21/tidak-hanya-dalam-bisnis-peneliti-brin-masyarakat-tionghoa-berpartisipasi-dalam-berbagai-aspek
  3. https://www.jpnn.com/news/tak-melulu-bisnis-tionghoa-juga-berpartisipasi-dalam-berbagai-aspek
  4. https://wartaekonomi.co.id/read533674/tak-hanya-pintar-berbisnis-kapasitas-tionghoa-dan-keislaman-kian-berperan
  5. https://www.viva.co.id/english/1707186-chinese-muslims-adapting-and-becoming-part-of-indonesia
  6. https://www.kompas.com/edu/read/2024/04/21/213332571/peneliti-brin-masyarakat-tionghoa-banyak-partisipasi-dalam-hal-budaya-dan
  7. https://kabar24.bisnis.com/read/20240421/79/1759359/inklusivitas-tionghoa-banyak-jadi-pendakwah-muslim
  8. https://mediaindonesia.com/humaniora/666433/tak-melulu-bisnis-tionghoa-berperan-dalam-berbagai-aspek-di-indonesia