Sengketa Wilayah China–Filipina di Laut China Selatan, Indonesia Harus Bagaimana?

Sengketa Wilayah China–Filipina di Laut China Selatan, Indonesia Harus Bagaimana?

Sebagaimana dilansir oleh sejumlah media, antara lain Kompas.com, Wartaekonomi.co.id, Kabar24.bisnis.com, Tribunnews.com, Detik.com, dan Suara.com, Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Filipina, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Agus Widjojo, menyampaikan gambaran umum hubungan China-Filipina terkait wilayah Laut China Selatan (LCS). Diawali pada tahun 1949, China mengumumkan sebuah istilah baru, yaitu “nine dash line”, yang berisi klaim sepihak atas wilayah teritorial perairan sekitar LCS dan WPS (Laut Filipina Selatan), bahkan selanjutnya China menetapkan “ten-dash line”. Dubes Agus menjelaskan sengketa ini telah memasuki babak baru pada tahun 2023 yang diwarnai beberapa insiden, mulai dari penembakkan sinar laser ke Kapal BRP Malapascua milik Penjaga Pantai Filipina (PCG) oleh Kapal Penjaga Pantai China (CCG), hingga penembakan meriam air oleh kapal CCG terhadap Kapal PCG di Ayungin Shoal saat sedang mengawal misi pasokan logistik Kapal Angkatan Laut Filipina, BRP Sierra Madre. 

Ristian Atriandi Supriyanto, dosen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia, dan peneliti mitra Forum Sinologi Indonesia (FSI) berpendapat bahwa tindakan provokatif China menjadi alasan Filipina berusaha mencari dukungan, mulai dari Amerika Serikat, Australia, dan juga negara-negara lain, seperti Kanada, Jepang, Inggris, Prancis dan mungkin saja bertambah ke depannya. Pelibatan negara-negara di atas dilihat sebagai akibat dari tindakan agresif dan provokatif China.

Johanes Herlijanto, Ph.D., selaku Ketua FSI dan pemerhati China dari Universitas Pelita Harapan mengatakan bahwa Filipina telah mengambil berbagai langkah, salah satunya dengan mengajukan gugatan terhadap China di Mahkamah Arbitrase Internasional, Den Haag, di mana hasilnya telah memperkuat posisi hukum Filipina di LCS. Namun, Johanes mengungkapkan bahwa China menolak untuk menaati hasil ini. Melihat kondisi ini, Filipina mencoba langkah yang lebih halus, yaitu dengan membangun pertemanan dengan China, khususnya pada era kepresidenan Duterte.

Johanes berpendapat, baik upaya tegas maupun halus yang telah dilakukan Filipina, tidak membuat China menghentikan langkah agresifnya ke negara-negara di Asia Tenggara, bahkan agresivitas China semakin meningkat di tahun-tahun belakangan ini. 

Dubes Agus memaparkan bahwa meskipun ketegangan kian meningkat, kedua belah pihak akan terus menahan diri dan berupaya tetap menggunakan jalur diplomasi untuk penyelesaian konflik, di mana kebijakan Presiden Filipina Marcos Jr., yaitu “a friend to all and an enemy to none,” memegang peranan sangat penting dalam rangkaian peristiwa ini. 

Ristian menjelaskan bahwa persoalan LCS tidak hanya meningkatkan ketegangan antara China dan Filipina, melainkan juga dengan sesama negara ASEAN. Oleh karena itu, ia mengatakan agar Indonesia bersatu dengan negara-negara di ASEAN lainnya untuk melaksanakan patroli bersama di wilayah LCS demi mencegah provokasi China lebih lanjut.

Pendapat ini didukung oleh argumen Johanes terkait negara-negara ASEAN yang harus bersatu dan menyatakan sikap yang tegas terhadap provokasi dari China di LCS. Dubes Agus juga menilai pentingnya penyelesaian Code of Conduct (tata perilaku) dan konsolidasi ASEAN dalam penyelesaian sengketa wilayah teritorial di LCS yang juga melibatkan Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam. 


Referensi

  1. https://news.detik.com/berita/d-7091983/laut-china-selatan-kembali-tegang-negara-negara-asean-diimbau-bersatu
  2. https://m.tribunnews.com/internasional/2023/12/16/militer-tiongkok-makin-agresif-di-laut-china-selatan-fsi-negara-asean-harus-solid
  3. https://wartaekonomi.co.id/read523261/filipina-jadi-sasaran-china-pakar-dorong-persatuan-di-asean
  4. https://www.suara.com/bisnis/2023/12/15/164110/fsi-asean-perlu-bersatu-dan-bersikap-tegas-terhadap-provokasi-china-di-laut-china-selatan
  5. https://www.kompas.com/edu/read/2023/12/15/134729871/pakar-ui-indonesia-dan-negara-asean-harus-bersatu-terkait-konflik-laut-china
  6. https://kabar24.bisnis.com/read/20231218/19/1724783/filipina-hadapi-provokasi-laut-china-selatan-forum-sinologi-minta-asean-bersatu