Kehadiran China Di Arktik Dan Tantangan Geopolitik AS

Kehadiran China Di Arktik Dan Tantangan Geopolitik AS

Pemandangan fyord yang mencair akibat perubahan iklim di dekat Kepulauan Svalbard, di Samudra Arktik di Norwegia pada 19 Juli 2022. Foto:VCG
Pemandangan fyord yang mencair akibat perubahan iklim di dekat Kepulauan Svalbard, di Samudra Arktik di Norwegia pada 19 Juli 2022. Foto:VCG

Perusahaan yang bergerak di bidang intelijen dan keamanan teknologi, Strider Technologies, pada awal Februari 2024 merilis laporan tentang eskalasi kehadiran China di kawasan Arktik.  Menurut Strider, meluasnya keberadaan China secara masif di wilayah itu tidak terlepas dari kerja sama dengan Rusia, yang merupakan salah satu anggota Dewan Arktik, dalam berbagai sektor, termasuk eksplorasi gas alam dan infrastruktur.

Strider mengekspos bahwa sepanjang Januari—Juni 2023 terdapat 123 perusahaan dari China yang beroperasi di Arktik. Padahal, pada sepanjang tahun 2020, 2021, dan 2022, jumlah perusahaan China yang terdaftar di Artik di bawah skema kerja sama dengan Rusia ‘hanya’ mencapai masing-masing 48, 77, dan 111 perusahaan. Selain itu, jumlah kapal dari Rusia ke China melalui Jalur Laut Utara (North Sea Route atau NSR) meningkat dari hanya satu pada tahun 2022 menjadi setidaknya 11 kapal pada tahun 2023.1

Meningkatnya kehadiran China di Arktik di bawah payung kerja sama dengan Rusia tidak terlepas dari pergeseran konstelasi geopolitik di sekitar kawasan itu. Seperti yang ditulis oleh Strider, pada beberapa dekade sebelumnya, Rusia sebenarnya berupaya menghalagi negara-negara di luar kawasan Arktik, termasuk China, untuk berpartisipasi aktif di Arktik. Dalam hal ini, Rusia lebih suka bekerja sama dengan sesama negara Dewan Arktik yang mencakup Kanada, AS, Norwegia, Swedia, Finlandia, Islandia, dan Denmark.2

Akan tetapi, Rusia mengubah sikapnya setelah negara-negara Dewan Arktik menghentikan kerja sama mereka, menyusul aneksasi negara itu atas Krimea dan Ukraina, masing-masing pada 2014 dan 2022. Kondisi ini secara signifikan mendorong Rusia untuk mengintensifkan kerja sama dengan China di Arktik. Ini merupakan strategi Rusia untuk tetap mempertahankan eksistensi di Arktik, setelah negara itu memutuskan untuk lebih fokus pada perang di Ukraina. Selain itu, Rusia juga menarik pihak swasta lokal dalam zona ekonomi khusus di Arktik. Jumlah perusahaan swasta Rusia yang terlibat di Arktik juga meningkat drastis, dari 230 di tahun 2016 menjadi 4.000 pada 2023.3

Pada tataran tertentu, posisi Arktik dalam konstelasi geopolitik dan geoekonomi semakin berkembang dengan signifikan. Mencairnya es di kawasan ini akibat pemanasan global memunculkan potensi bahwa perairan NSR, termasuk Arktik, suatu saat akan dapat dilalui sepanjang tahun. Sehingga, posisi Arktik menjadi semakin penting bagi pelayaran global dan berpotensi menggeser posisi penting rute pelayaran Terusan Suez—Selat Malaka.

Hal itu tidak luput dari pengamatan China; bahkan, walau tidak terletak di kawasan Arktik, pada tahun 2018 China secara resmi mengeluarkan China’s Arctic Policy (中国的北极政策 atau Zhōngguó de běijí zhèngcè). Dalam dokumen itu, China mengklaim bahwa:

China adalah stakeholder penting dalam urusan di Arktik. Secara geografis, China adalah ‘Negara di Dekat Arktik’ yang merupakan salah satu negara kontinental terdekat dengan Lingkaran Arktik. Kondisi dan perubahan alam di Arktik akan berdampak langsung kepada sistem iklim dan lingkunan ekologi China, serta berpengaruh pada kepentingan ekonomi China di bidang pertanian, kehutanan, perikanan, industri kelautan, dan sektor-sektor lainnya.4

Bahkan, dokumen itu juga menyebutkan keinginan China untuk membuka kerja sama dengan pihak lain untuk mengembangkan ‘Jalur Sutera Kutub’ atau ‘Polar Silk Road’ (冰上丝绸之路bīng shàng sīchóu zhī lù) di Arktik. Adapun kerangka Jalur Sutera Kutub diarahkan untuk mendukung program pembangunan Belt and Road Initiative (BRI) yang dicanangkan Presiden Xi Jinping pada 2013.5

Rusia bukan satu-satunya mitra China di Arktik. Sebelum bermitra dengan Rusia, China sudah mengerjakan scientific project di kawasan Arktik bersama Norwegia pada 2004. Saat itu, China mengoperasikan laboratorium yang dinamakan Yellow River Station di Kepulauan Svalbard, Norwegia di bawah Polar Resarch Institute of China (中国极地研究所 atau Zhōngguó jídì yánjiūsuǒ – penulis). Laboratorium itu mengoperasikan penelitian di bidang meteorologi, glasiologi, ekosistem dan lingkungan kelautan, serta pola cuaca di wilayah kutub. Setelah itu, China mengoperasikan laboratorium penelitian bersama negara anggota Dewan Arktik lainnya, seperti Islandia, Swedia, dan Finlandia.6

Meningkatnya kehadiran China pada wilayah di atas tentu menjadi perhatian Amerika Serikat (AS). Dalam laporan Department of Defense Arctic Strategy yang dirilis pada 2019, Departemen Pertahanan AS menyebutkan bahwa kawasan Arktik berpotensi menjadi koridor kompetisi strategis. Laporan tersebut menekankan pula bahwa AS berkepentingan untuk menjamin pelayaran dan penerbangan bebas di Arktik, serta membatasi kemampuan China dan Rusia menjadikan kawasan itu sebagai ajang persaingan untuk meraih kepentingan strategis mereka.7

AS juga mencurigai bahwa meningkatnya kehadiran China di Arktik tidak terlepas dari misi intelijen dan militer yang diselubungi oleh proyek ilmu pengetahuan dan teknologi. Dokumen National Strategy for the Arctic Region yang dirilis oleh Gedung Putih pada Oktober 2022 secara jelas menyebutkan, “Over the last decade, the PRC has doubled its investments, with a focus on critical mineral extraction; expanded its scientific activities; and used these scientific engagements to conduct dual-use research with intelligence or military applications in the Arctic.”8

Senada dengan AS, Pakta Pertahana Atlantik Utara (NATO atau North Atlantic Treaty Organization) menaruh kewaspadaan akan aktivitas pelayaran dan riset yang dilakukan pihak China di kawasan Arktik. Bahkan, Ketua Komite Militer NATO Laksamana Rob Bauer mengklaim bahwa pihaknya mengetahui keberadaan ilmuwan militer di atas kapal China yang melintas di Arktik.9

Pada Januari 2024, Pentagon kembali menyampaikan keprihatinan atas semakin meningkatnya kerja sama China—Rusia di kawasan Arktik. Deputi Asisten Menteri Pertahanan AS untuk urusan Pertahanan Arktik dan Ketahanan Global Iris Ferguson mengatakan bahwa AS menaruh concern terhadap meningkatnya investasi di bidang militer antara Rusia dan China. Apalagi, lebih dari separuh kawasan Arktik berada di wilayah Rusia.10

Pandangan AS dan sekutunya menimbulkan reaksi dari pihak China, termasuk dari Media China Global Times yang menginduk ke Renmin Ribao (People’s Daily atau Harian Rakyat). Global Times (8 Oktober 2022) menerbitkan pernyataan dari Senior Research Fellow pada the China Institute of International Studies Yang Xiyu bahwa AS sedang mempolitisir aktivitas China dan Rusia di Arktik. Dalam hal ini, Yang Xiyu melihat bahwa AS menciptakan wacana ‘meningkatnya persaingan’ di Arktik sebagai pembenaran untuk mengetatkan kontrolnya di kawasan itu.11

Awal Maret 2024, Global Times menurunkan opini yang mengkritik laporan Strider Technologies, serta Barat yang dalam penilaian media itu sedang menciptakan ‘ancaman imajinatif’ terhadap kerja sama China—Rusia di Arktik. Opini itu juga mempertanyakan mengapa Barat hanya berfokus pada ancaman dari China, sedangkan pihak-pihak lain seperti India juga melakukan aktivitas serupa di Arktik.12

Baru-baru ini juga (7 Maret 2024), kantor berita China Xinhua merilis pernyataan Menteri Luar Negeri China Wang Yi bahwa negaranya “mengedepankan dunia multi-polar yang setara dan tertib, serta globalisasi ekonomi yang menguntungkan semua pihak”. Wang Yi juga menekankan bahwa masalah-masalah internasional tidak boleh dimonopoli oleh kekuatan-kekuatan tertentu.13 Pernyataan Wang Yi ditujukan untuk masalah internasional secara umum; tetapi pada tataran tertentu, sikap itu bisa diinterpretasikan sebagai respon China atas kekhawatiran pihak Barat, terutama AS terhadap kehadiran China di Arktik.

Namun tentu saja kekhawatiran AS dan sekutunya di atas dapat dipahami. Bertolak belakang dengan pandangan media China, seperti Global Times yang menganggap kekhawatiran Barat sebagai ‘imaginatif,’ intensitas kehadiran China di Arktik yang semakin meningkat, terutama melalui kerja sama dengan Rusia, berpotensi memperkuat posisi China di ‘beranda’ AS. Hal ini mengingat kawasan Arktik juga mencakup wilayah AS, yaitu Alaska. Dengan demikian, pada tataran tertentu, konstelasi di Arktik belakangan ini berpotensi menambah tantangan geopolitik bagi AS, yang saat ini tengah menghadapi sikap geopolitik China yang makin asertif di kawasan Laut China Selatan (LCS) dan Samudera Pasifik.14 

Referensi


  1. Strider Technologies, “Shifting Ice: Russia’s Increasing Reliance on the Private Sector and the PRC in the Arctic”, Februari 2024, hal. 3, https://content.striderintel.com/wp-content/uploads/2024/02/Strider_Shifting_Ice_Report.pdf (diakses pada 1 Maret 2024)
  2. Ibid, hal. 6
  3. Ibid, hal. 4
  4. The State Council Information Office of the People’s Republic of China, “China’s Arctic Policy”, 26 Januari 2018, https://english.www.gov.cn/archive/white_paper/2018/01/26/content_281476026660336.htm (diakses pada 1 Maret 2024)
  5. Ibid.
  6. Michael Lipin, “China Begins to Revive Arctic Scientific Ground Projects After Setbacks”, Voice of America, 5 Desember 2022, https://www.voanews.com/a/china-begins-to-revive-arctic-scientific-ground-projects-after-setbacks-/6860756.html (diakses pada 1 Maret 2024)
  7. Office of the Under Secretary of Defense for Policy, “Report to Congress: Department of Defense Arctic Strategy”, hal. 4-5, https://media.defense.gov/2019/Jun/06/2002141657/-1/-1/1/2019-DOD-ARCTIC-STRATEGY.PDF (diakses pada 2 Maret 2024)
  8. The Whitehouse, “National Strategy for the Arctic Region”, hal. 6, https://www.whitehouse.gov/wp-content/uploads/2022/10/National-Strategy-for-the-Arctic-Region.pdf (diakses pada 2 Maret 2024); PRC merujuk pada People’s Republic of China, nama resmi negara China dalam Bahasa Inggris.
  9. Danielle Bochove dan Natalia Drozdiak, “NATO Admiral Says Growing China-Russia Ties Raise Risk in Arctic”, Bloomberg, 22 Oktober 2023, https://www.bloomberg.com/news/articles/2023-10-21/nato-admiral-says-growing-china-russia-ties-raise-risk-in-arctic (diakses pada 2 Maret 2024)
  10. Daniel Cusick dan E&E News, “Are Russia and China Teaming Up to Control the Arctic?”Scientific American, 3 Januari 2024, https://www.scientificamerican.com/article/are-russia-and-china-teaming-up-to-control-the-arctic/ (diakses pada 8 Maret 2024)
  11. Zhang Hui dan Wan Hengyi, “US’ New Arctic Strategy Seeks to ‘Militarize’ Region; Intl Rules Needed for Peaceful Devt”, Global Times 8 Oktober 2022, https://www.globaltimes.cn/page/202210/1276695.shtml, diakses pada 8 Maret 2024
  12. Andrew Korybko, “Why is the West Inventing an Imaginary Arctic Threat of China-Russia Cooperation?”, Global Times, 1 Maret 2024, https://www.globaltimes.cn/page/202403/1307991.shtml (diakses pada 8 Maret 2024)
  13. Huaxia (ed.), “China Advocates Equal, Orderly Multi-Polar World, Inclusive Economic Globalization that Benefits All: FM”, Xinhua, https://english.news.cn/20240307/788576a1703d4902a2b28fcdfdcebe90/c.html (diakses pada 8 Maret 2024)
  14. Untuk analisis mengenai perubahan sikap geopolitik China di LCS, lihat Kris Wijoyo Soepandji, “Perubahan Sikap Geopolitik Tiongkok, Reaksi Barat, Dan Sikap Indonesia,” https://forumsinologi.id/perubahan-sikap-geopolitik-tiongkok-reaksi-barat-dan-sikap-indonesia/ (diakses pada 11 Maret 2024)


Muhammad Farid, dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Presiden dan sekretaris Forum Sinologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *