Diskusi Cap Go Meh, Wayang Potehi: Budaya Tionghoa dalam Keindonesiaan

Diskusi Cap Go Meh, Wayang Potehi: Budaya Tionghoa dalam Keindonesiaan

Forum Sinologi Indonesia (FSI), dalam rangka menyambut perayaan Cap Go Meh,  kembali mengadakan seminar bertajuk “Wayang Potehi: Budaya Tionghoa dalam Keindonesiaan,” pada 23 Februari 2024 lalu. Acara ini juga merupakan bentuk apresiasi terhadap salah satu kebudayaan Tionghoa yang sarat akan nilai-nilai keindonesiaan. Kali ini, FSI mengundang dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (FIB UI), Dwi Woro Retno Mastuti, M.Hum., Josh Stenberg, Ph.D., profesor studi China, University of Sydney, dan Afdal Ridho Arman selaku sutradara dan praktisi film.

Mengawali seminar ini, Josh Stenberg menjelaskan bahwa perkembangan Potehi sebagai bagian dari budaya Indonesia sangatlah menarik, mengingat Potehi awalnya merupakan budaya China yang berasal dari bagian Selatan provinsi Fujian. Kini, Potehi diadaptasikan ke berbagai narasi, genre, dan pertunjukkan, serta dipromosikan sebagai bagian dari budaya Tionghoa Indonesia. Josh melihat Potehi perlu dihargai sebagai budaya Sino-Jawa, bukan lagi cabang dari diaspora China. Oleh karena itu, Potehi merupakan gambaran positif untuk Tionghoa dan Indonesia dan dapat dijadikan sebagai narasi nasional yang mengedepankan keberagaman dan pluralitas bangsa Indonesia.

Selanjutnya, Dwi Woro Retno Mastuti menjelaskan bahwa Potehi merupakan salah satu seni pertunjukan wayang di Indonesia yang biasa dilaksanakan di berbagai klenteng di Jawa sebagai bagian dari ritual Kong Hu Cu. Potehi menceritakan berbagai kisah Tiongkok klasik mulai dari kisah Sam Kok, Sie Jin Kwi, San Pek Eng Tai, Li Si Bin, dan lain-lain. Menariknya, naskah kisah-kisah ini, yang ditulis dalam aksara Jawa, menunjukkan akulturasi budaya Tionghoa dalam kebudayaan Indonesia. Pada era Soeharto, Potehi tidak pernah muncul ke masyarakat umum dan pergelarannya hanya dibatasi di dalam klenteng saja. Barulah di zaman Gus Dur, arus untuk apresiasi budaya Tionghoa mulai dibuka. Dwi Woro berpandangan bahwa melestarikan wayang Potehi sama dengan menjaga kebhinekaan Indonesia. Dalam pemaparannya, Dwi Woro menjelaskan cara memainkan wayang Potehi secara detail. Dwi Woro menjelaskan bahwa Potehi memiliki beberapa fungsi sebagai ritual, di antaranya, untuk pemujaan para leluhur, persembahan untuk para dewa, dan pertunjukkan umum untuk perayaan ulang tahun klenteng. 

Pada sesi pemaparan terakhir, Afdal Ridho Arman, selaku sutradara dan penulis film dokumenter “Po Te Hi”, menjelaskan bahwa ia merasa terpanggil untuk membuat karya ini bersama Dwi Woro. Film dokumenter “Po Te Hi,” yang juga ditayangkan pada seminar kali ini, berisikan tentang perjalanan wayang Potehi di Indonesia serta keseluruhan perjuangan penelitian Dwi Woro Retno Mastuti selama puluhan tahun. Afdal berharap film dokumenter ini mampu menjadi warisan untuk generasi kedepannya agar tidak lupa akan kebudayaan wayang Potehi di Indonesia. 

Sebagai penutup, Johanes Herlijanto, Ph.D., selaku ketua FSI, menjelaskan bahwa wayang Potehi menjadi salah satu contoh dari adaptasi kebudayaan Tionghoa selama ratusan tahun. Kehadiran Potehi menampilkan corak hibriditas dari kebudayaan Tionghoa Indonesia yang banyak sekali mengandung nilai-nilai keindonesiaan. Johanes menjelaskan bahwa budaya ini bukan lagi merepresentasikan daratan Tiongkok, melainkan sebagai sebuah produk dari proses ‘akulturasi antara kebudayaan Tionghoa dan Jawa.