China dan Keamanan Siber di Asia Tenggara: Peluang dan Tantangan Bagi Indonesia

China dan Keamanan Siber di Asia Tenggara: Peluang dan Tantangan Bagi Indonesia

Dilansir dari keterangan pers yang dimuat oleh beberapa media, antara lain Tribunnews.com, Jpnn.com, Sindonews.com, Detik.com, dan Kompas.com, Ali Abdullah Wibisono, seorang pemerhati keamanan non-tradisional dan dosen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia, mengatakan bahwa di masa kini, China semakin mengandalkan kekuatan digitalnya dengan menjalankan operasi siber untuk melakukan peretasan terhadap negara-negara Barat. Ali melihat kejadian pembocoran informasi oleh Edward Snowden pada tahun 2013 telah menciptakan persepsi ancaman dari Amerika Serikat (AS) dalam diri pemerintah China. Oleh karena itu, China menganggap perlu melakukan pertempuran siber dalam meningkatkan kekuatan digital sebagai respons terhadap penetrasi dunia digital yang dilakukan oleh negara-negara Barat.

Ali menjelaskan meski target siber China adalah negara-negara Barat, China juga pernah mencoba untuk melakukan penetrasi siber terhadap negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada masa lalu, khususnya ketika para pejabat negara-negara tersebut sedang mengadakan pertemuan mengenai Laut China Selatan (LCS). Oleh karena itu, negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, perlu merespons secara bijak kemajuan teknologi informasi di China. Pasalnya, meski kemajuan sistem informasi di China dapat membawa peluang bagi peningkatan kapasitas, China juga dipandang memiliki potensi ancaman siber bagi negara-negara lain.

Namun, Ali melihat China akan menghormati aturan main yang diterapkan oleh otoritas negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, dengan catatan, otoritas terkait mampu bersikap tegas terhadap segala ancaman siber. Indonesia sendiri tidak dapat mengandalkan norma siber global, yang mana belum secara eksplisit melarang serangan siber dari satu negara ke negara lainnya. Ali melihat pencegahan dan pemulihan pasca-serangan siber menjadi tanggung jawab masing-masing negara.

Johanes Herlijanto, selaku Ketua Forum Sinologi Indonesia dan dosen Program Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Pelita Harapan, menambahkan, Indonesia perlu terus mengamati perkembangan teknologi digital di China. Hal ini berkaitan erat dengan komitmen China untuk mengembangkan apa yang Presiden Xi Jinping sebut sebagai ‘Kekuatan Produktif Kualitas Baru’ atau New Quality Productive Forces. Komitmen ini akan mendorong China makin meningkatkan kemandiriannya dalam bidang teknologi informasi.

Pada sisi lain, China juga tertarik untuk turut terlibat dalam pengembangan infrastruktur digital di negara-negara lain, termasuk Indonesia, melalui platform yang disebut sebagai ‘Jalan Sutra Digital’ atau Digital Silk Road. Menurut Johanes, platform ini dapat menjadi sumber peluang, tapi sekaligus menjadi ancaman bagi Indonesia. Johanes melihat adanya kekhawatiran sementara kalangan terhadap kecenderungan China memanfaatkan ruang siber untuk kepentingan propaganda demi peningkatan pengaruh China di negara-negara tujuan. Hal ini dapat dilihat dari hadirnya berbagai video glorifikasi terhadap China yang beredar di berbagai platform media sosial. Johanes menyarankan bahwa penting bagi otoritas Indonesia untuk mempertahankan kehati-hatian dan kewaspadaan bila ingin memanfaatkan peluang yang ada dan menjalin kerja sama dengan China dalam pengembangan infrastruktur digital.

Referensi

  1. https://www.tribunnews.com/internasional/2024/04/23/kemajuan-teknologi-digital-china-patut-diwaspadai-sekaligus-bisa-jadi-peluang
  2. https://m.jpnn.com/news/kemajuan-teknologi-digital-rrc-berpotensi-hadirkan-ancaman
  3. https://edukasi.sindonews.com/read/1364091/211/diskusi-bem-unj-kemajuan-teknologi-digital-rrc-hadirkan-peluang-sekaligus-ancaman-1713848671
  4. https://news.detik.com/berita/d-7306514/kemajuan-teknologi-rrc-dinilai-sebagai-peluang-sekaligus-kewaspadaan
  5. https://www.kompas.com/edu/read/2024/04/23/183410571/pakar-ui-kekuatan-digital-china-jadi-peluang-dan-ancaman-banyak-negara