China dan Keamanan Siber di Asia Tenggara: Peluang dan Tantangan Bagi Indonesia

China dan Keamanan Siber di Asia Tenggara: Peluang dan Tantangan Bagi Indonesia

Pada hari Senin, 22 April 2024 lalu, Forum Sinologi Indonesia (FSI) kembali mengadakan seminar kolaborasi dengan BEM Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (BEM FIS UNJ) yang bertajuk “China dan Keamanan Siber di Asia Tenggara: Peluang dan Tantangan bagi Indonesia.” Seminar kolaborasi ini menghadirkan Ali Abdullah Wibisono, Ph.D., pemerhati keamanan non-tradisional dan associate professor Departemen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia, dan Johanes Herlijanto, Ph.D., dosen Program Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Pelita Harapan dan Ketua FSI.

Seminar diawali dengan pembahasan Ali Abdullah Wibisono terkait lapisan-lapisan yang ada dalam ruang siber, meliputi fisik, logis, dan kognitif. Ali melihat sumber ancaman dapat datang dari berbagai lapisan, mulai dari kerawanan digitalisasi yang telah mengintegrasikan sektor-sektor kehidupan sehingga membuatnya tidak lagi privat, misinformasi dan disinformasi, hingga ancaman asimetrisme pengetahuan, di mana pengguna yang memiliki pengetahuan akan menggunakan ketidaktahuan pengguna lain untuk kepentingan pribadi yang dapat bersifat politik maupun untuk keuntungan pribadi semata. Ali melihat dalam ruang siber, offence is on advantage, di mana negara atau aktor yang melakukan tindakan ofensif tidak akan dirugikan dari retaliasi tindakannya. 

Menanggapi kemajuan digital China di era ini, terdapat 3 poin pemicu yang disorot oleh Ali, yaitu, 1. Pertumbuhan ekonomi dan stabilitas dalam negeri, 2. Persaingan geopolitik dengan Amerika Serikat (AS), 3. Perlindungan terhadap kekuatan dan kekuasaan Partai Komunis. Ali melihat dengan adanya kemajuan teknologi digital, hal ini menjadi kompensasi China atas perlambatan ekonomi negaranya yang kini hanya berada di pertumbuhan di single-digit. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan stabilitas negeri, China melakukan spionase (pencurian data) ke negara Barat dan aliansinya. Tindakan itu, menurut China, tidak selalu buruk. Hasil dari aktivitas spionase tersebut digunakan China untuk negosiasi dan mencapai keunggulan relatif, yang mana hal ini menyebabkan negara Barat selalu menaruh curiga terhadap China. Di balik China yang selalu berusaha mencapai keunggulan dari AS, negara itu masih terus memiliki persepsi ancaman eksternal. Hal itu terjadi  karena negara itu masih memiliki ketergantungan supply chain dari negara lain, khususnya terkait dengan semikonduktor, di mana kebanyakan suplai masih berasal dari AS dan sekutunya.

Di akhir sesi pemaparan, Ali mengemukakan bahwa selama AS masih mendominasi dunia digital, China akan terus merasa terancam. Kini, ruang siber sudah semakin berbahaya dan serangan semakin rutin terjadi. Meskipun China akan selalu mencoba untuk penetrasi siber di negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, Ali berpendapat bahwa China akan tetap menghormati aturan main Indonesia asalkan pemerintah Indonesia dapat bersikap tegas.

Selanjutnya, Johanes Herlijanto menjelaskan beberapa latar belakang perkembangan teknologi di China yang menarik untuk diketahui dan direspons secara bijak. Johanes melihat adanya tindakan China mencanangkan komitmen pengembangan New Quality Productive Forces atau ‘Kekuatan Produksi Kualitas Baru’, di mana Li Qiang, Perdana Menteri China, mengungkapkan tekad China untuk memfokuskan kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini menunjukkan adanya dorongan dari pemerintah China untuk melakukan terobosan teknologi yang revolusioner dan transformasi industri yang mendalam, dalam konteks ini adalah industriteknologi. 

Selain itu, China juga mencanangkan Digital Silk Road atau ‘Jalan Sutra Digital’, di mana dalam 10 tahun terakhir, China semakin mengembangkan teknologi informasinya ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Digital Silk Road menjadi alat China untuk berbagi perkembangan pembangunan teknologi digital dengan negara lain, salah satunya Indonesia, melalui kerja sama Indosat dan Huawei. Johanes melihat ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk membangun infrastruktur yang lebih baik dan membantu menyelesaikan permasalahan kesenjangan digital di Indonesia.

Namun di satu sisi, Johanes juga melihat adanya tantangan keamanan siber dari China yang sempat menjadi sumber keresahan UMKM di Indonesia, melalui kehadiran platform TikTok. Tantangan juga muncul dari kecurigaan terhadap China yang melakukan spionase, hingga kekhawatiran akan pemanfaatan ruang siber untuk kepentingan propaganda China dan peningkatan pengaruh di negara-negara yang dituju. Sebagai penutup, Johanes menyatakan Indonesia perlu terus mengamati perkembangan teknologi digital di China, di mana otoritas Indonesia perlu untuk bersikap hati-hati dan waspada jika ingin menjalin kerja sama dengan China dan memanfaatkan peluang-peluang pengembangan infrastruktur digital yang ada.