China, Asia Tenggara, dan Indonesia: Perkembangan Sepanjang 2023

China, Asia Tenggara, dan Indonesia: Perkembangan Sepanjang 2023

Kapal induk Amerika Serikat USS Nimitz telah bergerak menuju Laut China Selatan. Foto: U.S. Navy
Kapal induk Amerika Serikat USS Nimitz telah bergerak menuju Laut China Selatan. Foto: U.S. Navy

Sepanjang tahun 2023 terdapat berbagai perkembangan yang menarik terkait Republik Rakyat China (RRC) dan hubungannya dengan Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Tahun 2023 menarik dan penting untuk diamati. Tahun ini mengawali periode ketiga kepemimpinan Xi Jinping sebagai ketua Partai Komunis China (PKC) sejak terpilih kembali dalam Kongres Nasional PKC ke-20 di Beijing pada bulan Oktober 2022. Perkembangan apa saja yang terjadi di China sejak itu? Artikel ini membahas beberapa isu penting yang terjadi di China yang berdampak pada Asia Tenggara, terutama Indonesia.

Dengan terpilihnya Xi sebagai pemimpin tertinggi PKC untuk ketiga kalinya, terbentuk pula sebuah tim pemimpin baru yang terdiri dari orang-orang dekat Xi, untuk mengisi Komite Harian (Standing Committee) Politburo PKC. Komite ini merupakan sebuah komite tertinggi yang beranggotakan 7 orang pimpinan partai. Seiring dengan terpilihnya para anggota Komite Harian Politburo PKC itu, muncul pandangan bahwa anggota tim ini terdiri dari orang-orang kepercayaan Xi Jinping, dan tidak sepenuhnya mencerminkan asas meritokrasi.

Pengangkatan ini memunculkan keraguan terhadap kemampuan China mengarungi terpaan badai geopolitik dan sosial. Baru saja melalui musibah Pandemi Covid-19, RRC tengah menghadapi tekanan negara-negara Barat atas “pemisahan” (de-coupling) rantai pasokan dari China, yang kemudian berubah menjadi “pengurangan resiko” (de-risking).2 Tentu saja, dalam waktu relatif singkat, sulit untuk menentukan apakah keraguan di atas terbukti atau malah terbantahkan. Namun pada November 2022, China dilanda serangkaian aksi protes terbesar sejak demonstrasi Tiananmen. Dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan penguncian (lockdown) yang ketat sebagai upaya penanganan pandemi, aksi mahasiswa yang dikenal sebagai “gerakan kertas putih” itu berkembang menjadi sebuah protes terhadap kepemimpinan Xi Jinping dan kekuasaan PKC.3 Namun meski sempat meluas, gerakan tersebut dapat diredam oleh pihak penguasa.

Meski “gerakan kertas putih” di atas dapat dipadamkan dalam waktu yang cukup singkat, kesangsian sebagian rakyat China terhadap kepemimpinan RRC masih ada. Sepanjang tahun 2023, berbagai media di luar China sering kali memberitakan isu perlambatan ekonomi RRC.4 Bahkan media China yang tentunya berafiliasi dengan PKC dan pemerintah RRC pun secara tak langsung tampak mengakui terjadinya perlambatan ekonomi di negeri itu.5 Isu perlambatan ekonomi ini muncul bersamaan dengan krisis properti  yang  sudah mulai terlihat setidaknya sejak pertengahan tahun 2022.6 Belum lagi isu pengangguran, yang uniknya muncul bersamaan dengan isu kekurangan tenaga kerja, menggelembungnya utang dalam negeri, serta berkurangnya daya beli masyarakat.7 Bersamaan dengan itu, muncul pula kecenderungan sebagian anak-anak muda untuk menjadi “kaum rebahan” (tangpingzu) yang memilih hidup santai atau bahkan menjadi “anak penuh waktu.” Alih-alih memasuki dunia kerja dan menjalani budaya kerja “996” yang mengharuskan mereka bekerja selama 9 jam tiap hari, 6 hari dalam satu minggu.8

Kondisi ekonomi RRC yang melambat memicu kekhawatiran dunia global, khususnya Asia Tenggara. China adalah mitra dagang dan investasi terbesar semua negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Perlambatan ekonomi RRC bisa menurunkan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri. Muncul anggapan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, perlu menyeimbangkan atau meragamkan (diversifikasi) mitra dagang dan investasi di tengah menurunnya ukuran kesepakatan rata-rata (average deal size) investasi BRI menjadi sebanyak 48 persen di 2023 dari ukuran kesepakatan rata-rata tertinggi di 2018.9 Akibatnya, penting bagi Indonesia mengurangi ketergantungan ekonomi dengan China di tengah perlambatan ekonomi negara tersebut.

Selain ekonomi, isu keamanan makin mengemuka dalam periode ketiga kepemimpinan Xi Jinping. Kegigihan Xi untuk menyerang dan menduduki Taiwan menjadi kekhawatiran di kalangan pemerhati China dan hubungan internasional. Kekhawatiran ini muncul setelah pidato Xi di Kongres Nasional PKC ke-20 bulan Oktober 2022. Xi menyatakan bahwa meski prioritas terletak pada jalan damai, ia tidak mengecualikan jalan kekerasan untuk ‘menyatukan kembali’ Taiwan dengan China daratan.10 Apalagi, ketegangan Hubungan Lintas Selat Taiwan makin bertambah sejak kunjungan ketua dan delegasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) ke Taiwan pada Agustus 2022 hingga 2023.

Bagi negara-negara Asia Tenggara, kekhawatiran utama terletak pada sengketa Laut China Selatan (LCS) antara China dan beberapa negara Asia Tenggara. Pertama, tindakan provokatif RRC masih tampak dalam pengelolaan sengketa batas dan wilayah maritim dengan beberapa negara-negara Asia Tenggara, terutama dengan Filipina. Kapal-kapal penjaga pantai China, bersama dengan milisi maritim mereka, memaksa pihak Filipina keluar dari wilayah sengketa melalui jalan kekerasan tak bersenjata.11 Apalagi, kekuatan-kekuatan dari luar kawasan semakin banyak yang terlibat, seperti AS dan Australia, untuk berpatroli bersama Filipina sebagai balasan atas tindakan provokatif China.12 Kedua, pada Agustus 2023 lalu, China menerbitkan peta 10 ‘garis putus-putus’ yang menegaskan kembali pengakuan wilayah maritimnya yang tumpang tindih dengan batas maritim negara-negara Asia Tenggara lain.13 Menariknya, tindakan provokatif maupun penerbitan peta di atas, berlangsung seiring dengan kesepakatan China untuk menyelesaikan Pedoman Tata Perilaku (Code of Conduct) untuk meredam ketegangan di wilayah LCS bersama ASEAN.14

Tindakan provokatif China penting jadi perhatian Indonesia meskipun Indonesia bukan salah satu negara yang bersengketa di LCS. RRC menganggap sebagian ZEE Indonesia di perairan Laut Natuna Utara masuk dalam wilayah garis putus-putus dalam peta Agustus lalu. Indonesian pun telah merasakan tindakan provokatif China di wilayah itu. Bahkan pada Januari 2023, kapal-kapal penjaga pantai RRC dilaporkan masih memasuki perairan dekat Kepulauan Natuna itu.15 Bersama dengan negara-negara ASEAN lain, Indonesia perlu bekerja sama untuk menghentikan, atau setidaknya menanggapi secara tegas tindakan provokatif RRC tersebut agar tidak terjadi kembali.

Referensi


  1. Bernadette Aderi Puspaningrum, “Tokoh Komite Tetap Politbiro, Aliansi Xi Jinping yang Berkuasa di China 5 Tahun Mendatang,” Kompas.com, 25 Oktober 2022. Tersedia daring pada tautan https://www.kompas.com/global/read/2022/10/25/050000670/7-tokoh-komite-tetap-politbiro-aliansi-xi-jinping-yang-berkuasa-di-china?page=all (diakses pada 25 Desember 2023).
  2. A Dahana dan Johanes Herlijanto, “Mampukah Partai Komunis Cina Memadamkan Api dalam Sekam ini?” Website FSI, 9 Februari 2023. Tersedia daring pada tautan https://forumsinologi.id/mampukah-partai-komunis-cina-memadamkan-api-dalam-sekam-ini/ (diakses pada 25 Desember 2023); Ignatius Edhi Kharitas, “Dinamika Baru Hubungan Jerman-China: Lawatan Kanselir Scholz di Tengah Wacana “Decoupling,” Website FSI, 30 Januari 2023. Tersedia daring pada tautan https://forumsinologi.id/dinamika-baru-hubungan-jerman-china/ (diakses pada 25 Desember 2023).  
  3. Ignatius Edhi Kharitas, “Gerakan Kertas Putih: Benih Tantangan terhadap Legitimasi Rezim Otoritarian Tiongkok,” Website FSI, 9 Desember 2022. Tersedia daring pada tautan https://forumsinologi.id/gerakan-kertas-putih-tiongkok/ (diakses pada 25 Desember 2023)
  4. Misalnya Kentaro Tsutsumi, “China’s slow economy takes 9% off global manufacturers’ profits,” Asia Nikkei, 9 November 2023. Tersedia daring pada tautan https://asia.nikkei.com/Business/Companies/China-s-slow-economy-takes-9-off-global-manufacturers-profits (diakses pada 25 Desember 2023); Jessica Gabriela Soehandoko, “IMF: Perlambatan Ekonomi China Berdampak ke Ekonomi Asia-Pasifik,” Bisnis.com, 18 Oktober 2023. Tersedia daring pada tautan https://ekonomi.bisnis.com/read/20231018/620/1705382/imf-perlambatan-ekonomi-china-berdampak-ke-ekonomi-asia-pasifik (diakses pada 26 Desember 2023).
  5. Wang Cong, Chu Daye, dan Tao Mingyang, “China’s July data show slowdown pressure amid recovery, signaling more policy support,” Global Times, 15 Agustus 2023. Tersedia daring pada tautan https://www.globaltimes.cn/page/202308/1296316.shtml (diakses pada 26 Desember 2023).
  6. Kevin Slaten and Ming-tse Hung, “China’s property crisis is stirring protests across the country,” Asia Nikkei, 20 November 2023. Tersedia daring pada tautan https://asia.nikkei.com/Opinion/China-s-property-crisis-is-stirring-protests-across-the-country (diakses pada 26 Desember 2023).
  7. Ignatius Edhi Kharitas, “Krisis Ketenagakerjaan di Tiongkok: Perlambatan Ekonomi atau Pergeseran Paradigma Kaum Muda?” Website FSI, 24 Maret 2023. Tersedia daring pada tautan https://forumsinologi.id/krisis-ketenagakerjaan-tiongkok/ (diakses pada 26 Desember 2023); Tommy Patrio Sorongan, “China Kacau Balau, Pengangguran Merajalela,” CNBC Indonesia, 15 Juni 2023. Tersedia daring pada tautan https://www.cnbcindonesia.com/news/20230615190526-4-446346/china-kacau-balau-pengangguran-merajalela (diakses pada 26 Desember 2023); Priska Limandar, “Gelembung Utang Sang Kreditur: Pemerintah Daerah dan Utang Domestik di China,” Website FSI, 21 Desember 2023. Tersedia daring pada tautan https://forumsinologi.id/gelembung-utang-sang-kreditur/ (diakses pada 26 Desember 2023).
  8. Kerry Allen, “China’s new ‘tang ping’ trend aims to highlight pressures of work culture,” BBC.com, 3 Juni 2021. Tersedia daring pada tautan https://www.bbc.com/news/world-asia-china-57348406 (diakses pada 26 Desember 2023).
  9. Editorial Team, “China’s BRI Investments: Shifting Gears to Green,” Carboncopy, 17 Oktober 2023. Tersedia daring pada tautan https://carboncopy.info/chinas-bri-investments-shifting-gears-to-green/ (diakses pada 27 Desember 2023).
  10. Danur Lambang Pristiandaru, “Rangkuman Pernyataan Xi Jinping di Kongres Partai Komunis China: dari Taiwan hingga Perang Dingin,” Kompas.com, 16 Oktober 2022. Tersedia daring pada tautan https://www.kompas.com/global/read/2022/10/16/200100870/rangkuman-pernyataan-xi-jinping-di-kongres-partai-komunis-china–dari?page=all (diakses pada 27 Desember 2023).
  11. Kompas, “China dan Filipina Bersitegang,” Kompas.id, 26 Oktober 2023. Tersedia daring pada tautan https://www.kompas.id/baca/opini/2023/10/26/china-dan-filipina-bersitegang (diakses pada 27 Desember 2023).
  12. Ristian Atriandi Supriyanto, “Ketegangan di Laut China Selatan, Ketahanan Regional ASEAN, dan Peran Indonesia,” Website FSI, 24 November 2023. Tersedia daring pada tautan https://forumsinologi.id/ketegangan-di-laut-china-selatan-ketahanan-regional-asean-dan-peran-indonesia/ (diakses pada 27 Desember 2023); Kris Mada, “AS-Australia Kirim Pasukan dan Persenjaataan ke Filipina,” Kompas.id, 14 Agustus 2023. Tersedia daring pada tautan https://www.kompas.id/baca/internasional/2023/08/14/as-australia-kirim-pasukan-dan-persenjataan-ke-filipina (diakses pada 27 Desember 2023).
  13. Ma Zhenhuan, “2023 edition of national map released,” Chinadaily.com.cn, 28 Agustus 2023. Tersedia daring pada tautan https://www.chinadaily.com.cn/a/202308/28/WS64ec91c2a31035260b81ea5b.html (diakses pada 27 Desember 2023).
  14. Shofi Ayudiani dan Yuni Arisandy Sinaga (e.d), “CoC Laut China Selatan ditargetkan selesai dalam tiga tahun,” AntaraNews, 2 September 2023. Tersedia daring pada tautan https://www.antaranews.com/berita/3708681/coc-laut-china-selatan-ditargetkan-selesai-dalam-tiga-tahun (diakses pada 27 Desember 2023).
  15. Maria Siow dan Resty Woro Yuniar, “China ‘sending a signal’ by deploying largest coastguard vessels near Indonesia’s Natuna,” South China Morning Post (SCMP), 12 Januari 2023. Tersedia daring pada tautan https://www.scmp.com/week-asia/politics/article/3206445/china-sending-signal-deploying-largest-coastguard-vessels-near-indonesias-natunas (diakses pada 27 Desember 2023).

Johanes Herlijanto adalah dosen pada program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan dan ketua Forum Sinologi Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *